Facebook Pixel Code Tahapan Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Usia 0-3 Tahun

Tahapan Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Usia 0-3 Tahun

Tahapan Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Usia 0-3 Tahun

Tahapan Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Usia 0-3 Tahun

Tahapan Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Usia 0-3 Tahun

Memantau tahap perkembangan dan pertumbuhan anak sangatlah penting untuk mengetahui apakah si Kecil sudah tumbuh optimal atau belum. Dengan begitu, Bunda juga bisa menentukan stimulasi dan nutrisi yang tepat untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak di periode emasnya. 

Langkah awal yang bisa Bunda lakukan adalah mengetahui apa saja pencapaian yang sudah dicapai anak pada usia tertentu. Selengkapnya berikut ini adalah tahap tumbuh kembang anak usia 0-3 tahun. Yuk, simak bersama, Bunda!

Tahap Perkembangan dan Pertumbuhan Bayi Umur 0-12 Bulan

Menurut panduan Deteksi Dini dan Stimulasi Dini dari Kementerian Kesehatan RI, tumbuh kembang anak yang sebaiknya Bunda perhatikan meliputi perkembangan fisik (berat dan tinggi badan), motorik halus dan motorik kasar, kemampuan berbahasa, dan keterampilan bersosialisasi. 

Secara umum, berikut adalah tahap tumbuh kembang anak umur 0-12 bulan:

1. Usia 0-3 Bulan

Sejak baru lahir, bayi sudah mampu mendengar dan merespon dengan gerakan meski masih agak terbatas.  Bayi cenderung hanya masih mampu menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. 

Namun, kemampuan alami bayi ini terus berkembang setelah ia lahir sampai berusia 3 bulan. Di rentang usia 0-3 bulan ini juga, bayi akan mulai bisa membedakan cahaya dan suara. 

Kemudian, bayi usia 0-3 bulan juga memiliki beberapa gerakan refleks yang secara alami dilakukan bayi ketika mendapatkan sebuah rangsangan.

Beberapa gerakan refleks yang dapat ditunjukkan bayi baru lahir sampai setidaknya 3 bulan adalah:

  • Refleks menggenggam.

  • Refleks kejut (refleks Moro).

  • Refleks meregangkan tangan dan kaki dan menengokkan kepalanya dalam posisi terbaring (tonik).

  • Refleks membuka mulut ketika bibir disentuh (rooting).

  • Refleks mengisap (sucking).

  • Refleks melengkungkan jari kaki ketika telapak kaki disentuh (Babinski).

Refleks-refleks ini umumnya akan hilang dalam beberapa bulan ke depan setelah bayi lahir.

Hal lain yang mungkin muncul pada tahapan tumbuh kembang bayi di usia 0-3 bulan adalah growth spurt alias masa pacu tumbuh. Selama fase ini bayi akan mengalami pertambahan berat dan tinggi badan serta lingkar kepala lebih cepat dari minggu atau bulan sebelumnya.

Lalu, seperti apa stimulasi yang tepat untuk bayi usia 0-3 bulan?

Memasuki usia 2 bulan, bayi sudah mulai menggenggam secara pelan. Sering-seringlah untuk memberikan jari tangan Bunda untuk ia genggam guna melatih motorik tangan dan jari-jarinya. 

Untuk lebih mempercepat kemampuan penglihatan dan pendengarannya, Bunda sebaiknya sering mengajak anak mengobrol, ya. Meski dia belum mengerti, langkah ini dapat dilakukan agar ia lebih mengenali suara Bunda. 

Perhatikan pula bagaimana si Kecil akan mencari sumber bunyi ketika muncul suara berisik. Ini karena kepekaan indra pendengarannya sudah mulai terasah pada usia 3 bulan.

Coba pula untuk mengajak bayi bercermin agar ia bisa mengenali perbedaan wajah tiap orang, termasuk wajahnya sendiri.

Baca Juga: Perkembangan Bayi 3 Bulan dan Tips Stimulasinya

2. Usia 3-6 Bulan

Pada rentang umur 3-6 bulan bayi umumnya sudah lebih beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Ia pun sudah lebih mengenali wajah-wajah orang terdekatnya, seperti Bunda, ayah, kakak, nenek, kakek, atau sepupunya.

Bunda akan sering mendapati bayi tersenyum begitu melihat wajah Bunda ataupun Ayahnya. Namun, ketika bertemu orang asing, mungkin ia akan gelisah karena tidak merasa dekat dan kenal. Ekspresi wajah bayi menjadi lebih beragam ketika usianya memasuki 3 bulan ke atas.

Dalam periode 3-6 bulan ini, buah hati juga akan lebih banyak memperlihatkan pencapaian motoriknya. Gerakan dan eksplorasi bayi akan lebih banyak. Oleh karena itu, Bunda pun sebaiknya lebih ekstra dalam menjaga kondisi lingkungan sekitar buah hati.

Salah satu perkembangan bayi pada usia 3-6 bulan adalah mencapai posisi tengkurap. Tangannya pun bergerak lebih banyak untuk meraih benda-benda di sekitarnya. Keaktifan ini harus Bunda sikapi hati-hati dengan menjauhkan barang yang bisa melukai atau membahayakan dari jangkauan buah hati.

Memasuki tahapan perkembangan bayi usia 6 bulan, bahkan bayi cenderung sudah mulai bisa duduk dengan bantuan tangannya. Namun, karena tulang belakangnya belum terlalu kuat, Bunda harus selalu mengawasi gerak-geriknya, ya, untuk mencegah bayi terjatuh ketika sedang mencoba duduk.

Pada usia ini, fase tumbuh kembang anak dalam kemampuan bahasa bayi juga mulai terbentuk. Dari suara-suara yang ia kenal, buah hati akan mencoba menirukannya dalam bentuk gumaman. 

Artinya, buah hati sebenarnya hendak berinteraksi, Bun. Untuk itulah, Bunda sebaiknya menyediakan waktu lebih untuk menanggapi gumaman dan ocehan buah hati.

Baca Juga: 7 Aktivitas untuk Stimulasi Bayi 6 Bulan

3. Usia 6-9 Bulan

Bunda, ocehan bayi akan semakin banyak di usia 6-9 bulan. Bahkan, beberapa ocehannya sudah membentuk kata, lho, meski belum bermakna. Jangan kaget juga ketika ia sudah bisa mengucapkan kata “mama” atau “papa” pada periode ini.

Gerakan bayi pun akan semakin banyak pada usia ini. Buah hati sudah bisa tengkurap, sampai berguling-guling untuk berpindah dari satu sisi tempat tidur ke sisi lainnya. 

Tulang belakangnya sudah lebih kuat sehingga memungkinkan buah hati duduk lebih stabil tanpa perlu diberi penyangga. Bahkan, bayi akan bisa mulai berdiri sebentar pada periode ini. Momen-momen bayi merangkak umumnya akan Bunda lihat ketika bayi memasuki usia 6-9 bulan.

Pada usia 6-9 bulan, beberapa gigi bayi akan mulai tumbuh, Bun. Inilah yang membuat si Kecil cenderung menggigit barang-barang di sekitarnya pada usia ini.

Untuk itu, pastikan semua barang yang ada di sekelilingnya tidak berbahaya ketika masuk ke dalam mulut buah hati ya, Bun.

4. Usia 9-12 Bulan

Lalu, bagaimana tahapan perkembangan dan pertumbuhan anak sampai 12 bulan, ya? Pada rentang usia 9-12 bulan, bayi sudah mulai mengerti penggunaan kata-kata yang diucapkan. Bayi mungkin mulai berkata “nggak”  atau “mau” terhadap hal yang ia suka atau tidak. Kata-katanya yang makin beragam keluar dari mulutnya akan sangat bergantung dengan kata-kata yang sering didengarnya.

Si Kecil juga mungkin mulai berteriak-teriak memanggil kehadiran Bunda. Pada periode ini, sisi psikologis makin terlihat dari emosi bayi. Umumnya, bayi akan merasa makin lekat dengan Bunda.

Perkembangan motorik bayi lewat gerakan aktifnya pun akan berkembang makin jauh. Dari hanya bisa merangkak, ia kemungkinan sudah akan mulai bertatih di periode ini. 

Ia akan sering mencoba berjalan beberapa langkah sambil berpegangan dengan benda-benda besar di sekelilingnya, seperti kursi, lemari, atau meja. Kemungkinan risiko terjatuh sangat besar, jadi Bunda sebaiknya ekstra mengawasi si Kecil saat ia mulai belajar berdiri dan berjalan.

Tahap Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Usia 1-3 Tahun

Memasuki usia 1 tahun ke atas, Bunda tidak hanya mendapati tumbuh kembang anak yang cepat dari sisi motoriknya. Dari segi psikologis, ragam emosi anak pun akan semakin tampak pada masa ini.

Asupan nutrisi tetap memegang peranan besar dalam tumbuh kembang anak usia 1-3 tahun, Bunda. Di sisi lain, pola asuh, lingkungan, dan perilaku orang tua pun akan sangat menentukan tumbuh kembang anak. 

Berikut ini beberapa tahap perkembangan dan pertumbuhan anak di usia 1-3 tahun yang umumnya bisa Bunda amati.

1. Tahap Perkembangan Anak Usia 1 Tahun ke 2 Tahun

Tahukah, Bunda? Gerakan anak usia 1 tahun ke 2 tahun akan semakin beragam. Anak mulai bisa berjalan lebih stabil. 

Untuk mempercepat proses belajar berjalannya, Bunda bisa membantu dengan memapahnya dulu. Ini akan membantu meningkatkan kepercayaan diri buah hati karena sudah bertatih dengan bantuan benda.

Dari sisi kemampuan bahasanya, kosakata anak akan semakin banyak, Bun. Namun, momen meniru masih menjadi andalannya. Misalnya, ketika Bunda sering kali mengucapkan kata “Aduh” di depan si Kecil, bukan tak mungkin anak akan meniru ucapan tersebut.

Selain itu, Bunda sebaiknya bijak memilih kata-kata yang diucapkan saat berada di sekitar buah hati karena ia mulai memahami arti kata-kata. Kemampuannya mengerti ucapan orang juga harus Bunda manfaatkan untuk mengajarkan apa yang baik dan dan tidak baik.

Pada usia ini, anak juga sudah mulai bisa merangkai 2-3 kata yang memiliki arti. Dari sinilah Bunda bisa memperhatikan apakah anak Bunda mengalami keterlambatan berbicara atau tidak. 

Apabila kosakatanya masih terlalu sedikit dan belum mampu merangkai dua kata sampai usia 2 tahun, sebaiknya Bunda lebih sering mengajaknya berbicara, ya, agar kosakatanya bertambah.

Bunda juga sudah bisa mulai melatih kemandirian anak seiring bertambah aktifnya buah hati. Sebagai contoh, cobalah untuk mengajarkan toilet training ketika anak berusia 1,5 tahun, Bun.

Pada usia ini, anak pun akan semakin ekspresif, Bun. Ia juga semakin bergantung kepada Bunda dan menolak hal-hal yang tidak disukainya. 

Untuk menstimulasinya, Bunda bisa memperkenalkan buah hati kepada dunia yang lebih luas. Misalnya, ajaklah ia bermain ke taman atau ke tempat banyak anak-anak seusianya bermain. Biarkan mereka berinteraksi untuk menumbuhkan rasa empati anak.

Baca Juga: Ini Penyebab Bunda Kesulitan Berkomunikasi dengan Balita

2. Tahap Perkembangan Anak Usia 2 Tahun ke 3 Tahun

Dari sisi motorik, perkembangan anak usia 2 tahun ke usia 3 tahun umumnya sudah bisa berjalan stabil, bahkan berlari. Anak pun akan mulai melompat pada kisaran usia ini.

Sisi psikologis anak akan tampak lebih jelas. Bukan cuma menolak atau senang menerima sesuatu, anak pun sangat mungkin menunjukkan gejala tantrum. 

Sikap emosional anak yang berlebihan ini terjadi karena ia ingin keinginannya terpenuhi. Jika ini terjadi, Bunda sebaiknya menghadapi buah hati dengan tegas dan tidak langsung memenuhi keinginannya, ya. 

Membiarkan anak tantrum agar berhenti sendiri pun bisa menjadi pilihan. Pada usia ini, buah hati juga akan mulai bisa berpura-pura. Ada kemungkinan pula tantrum yang dilakukan hanya bagian dari sandiwara.

Tantrum pun bisa disebabkan oleh anak sulit mengutarakan keinginannya kepada Bunda. Keterbatasan bahasa bisa menjadi kendalanya, Bun. Cobalah bacakan buku cerita sebelum tidur untuk melatih kemampuan berbahasa anak agar ia mampu mengutarakan isi hati, sehingga emosinya bisa terjaga.

Pada usia ini, sebaiknya Bunda makin sering mengajak anak bermain dengan anak-anak seusianya untuk membantu melatih emosi si Kecil.

Baca Juga: Cara Membaca Grafik Pertumbuhan Anak

Tips Mendukung Tumbuh Kembang Anak 0-3 Tahun agar Optimal

Mengetahui tahapan tumbuh kembang anak usia 0-3 tahun sangat penting sebagai pengingat Bunda untuk selalu memantau si Kecil. Meski begitu, perlu diketahui kalau tiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda-beda, ya. 

Maka itu, di sinilah tugas Bunda dan Ayah untuk mengoptimalkan perkembangan bayi dengan cara-cara berikut ini:

1. Memenuhi Asupan Nutrisi Anak

Asupan nutrisi tidak boleh dilewatkan sebagai kunci utama dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak di usia 0-3 tahun, agar si Kecil bisa tumbuh dan berkembang sesuai potensi prestasinya, lho. 

Bunda bisa memenuhi nutrisi anak bisa dilakukan saat pemberian ASI eksklusif sampai si Kecil mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI). 

Tiap anak mulai bisa diberikan MPASI sejak usia 6 bulan dengan tekstur makanan yang lembut. Bunda bisa memberikan makanan yang menunjang kebutuhan vitamin, protein, dan kalsium yang berperan penting bagi tumbuh kembang si Kecil.

Bunda juga bisa bantu melengkapi kebutuhan asupan nutrisi harian anak lewat pemberian susu pertumbuhan yang difortifikasi seperti SGM Eksplor 1 Plus Pro-gress Maxx.

Susu pertumbuhan terfortifikasi SGM Eksplor 1 Plus Pro-gress Maxx menjadi satu-satunya susu pertumbuhan yang mengandung IronC, yaitu kombinasi unik antara zat besi dan vitamin C.

SGM Eksplor 1 Plus Pro-gress Maxx IronC juga dilengkapi dengan DHA, Minyak Ikan, Omega 3&6, Tinggi Protein, Tinggi Kalsium dan nutrisi penting lainnya untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak.

2. Berikan Stimulasi Sesuai Usianya

Bunda juga bisa memberikan stimulasi yang dapat mendukung tumbuh kembang si Kecil berjalan optimal. Beberapa stimulasi yang dapat diberikan pada si Kecil, antara lain:

  • Stimulasi motorik. Ajak si Kecil melakukan aktivitas fisik, seperti bermain atau olahraga. Aktivitas fisik bisa meningkatkan keterampilan motorik seperti keseimbangan, ketangkasan, dan fleksibilitas. Jika bisa dilakukan di luar ruangan, tentu lebih baik agar anak bisa lebih mengenal alam sekitar.

  • Stimulasi kognitif. Berikan beberapa pertanyaan untuk memicu anak berpikir dan memberikan jawaban. Selain itu, jenis stimulasi ini akan memperkaya perbendaharaan kata anak.

  • Stimulasi sensori. Bunda bisa memberikan stimulasi sensori yang melibatkan kelima panca indra. Aktivitas sensorik membantu otak si Kecil dalam memproses dan merespon informasi sensorik dengan lebih baik. Misalnya, bermain papan sensory, bermain lilin, atau bercocok tanam. 

3. Pastikan Anak Tidur Cukup

Tidur yang cukup ternyata berperan penting dalam tumbuh kembang anak, lho, Bun. Tidak percaya? Menurut studi dari Journal of Medicinal Food, hormon pertumbuhan anak akan bekerja maksimal saat ia sedang tidur.

Bayi baru lahir hingga berusia 3 bulan membutuhkan waktu tidur sebanyak 14-17 jam. Lalu, bayi berusia 3 bulan sampai 11 bulan disarankan untuk tidur sebanyak 12-17 jam. Nah, ketika usianya sudah mencapai 12 bulan hingga 2 tahun, bayi bisa tidur selama 11-14 jam lamanya.

Nah, seperti itulah tahap pertumbuhan dan perkembangan anak sejak ia lahir hingga berusia 3 tahun. Untuk memperkaya pengetahuan Bunda soal tumbuh kembang anak di masa periode emasnya, yuk gabung dengan Klub Generasi Maju.

Selain bisa terus update dengan artikel-artikel terbaru seputar tumbuh kembang anak, Bunda juga bisa kumpulkan poin sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan berbagai hadiah dan penawaran menarik lainnya. Daftar di sini sekarang, Bun!

Referensi tambahan:

  1. Web MD. https://www.webmd.com/parenting/baby/features/stages-of-development. Diakses pada 23 September 2022. 
  2. Healthline. https://www.healthline.com/health/how-to-increase-height#how-to-increase-height. Diakses pada 23 September 2022. 
  3. Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/childs-growth.html. Diakses pada 23 September 2022. 
  4. Healthline. https://www.healthline.com/health/what-is-sensory-stimulation#stimulation-for-young-children. Diakses pada 23 September 2022. 
  5. Early Childhood Australia. http://thespoke.earlychildhoodaustralia.org.au/five-ways-stimulating-play/. Diakses pada 23 September 2022.
  6. Children’s Museum of Sonoma County. https://www.cmosc.org/the-importance-of-physical-activity-for-kids/. Diakses pada 23 September 2022.

Artikel Lainnya di Tahapan 1 Tahun

6 Camilan Anak 1-3 Tahun yang ...

Anak usia 1-3 tahun pasti suka makan camilan. Berikut adalah rekomendasi camilan anak yang sehat...

6 Rekomendasi Mainan untuk Anak 1 Tahun

Saat anak memasuki umur 1 tahun, ia sedang senang bermain dengan mainan yang Bunda berikan. Cek...

Resep Menu Makanan untuk Anak 1 ...

Anak susah makan tentu menjadi tantangan terbesar bagi Bunda. Untuk mengatasinya, coba resep menu...

Daftar Kebutuhan Gizi Balita Usia 1...

Memenuhi kebutuhan gizi balita sangat penting untuk tumbuh kembangnya, Bun. Yuk, ketahui panduan...

Ketahui Tinggi Badan Anak yang ...

Tinggi badan setiap anak pasti berbeda-beda karena tergantung pada usia, berat, dan faktor genetik....

7 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan ...

Ada banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Selain nutrisi dari makanan,...


Artikel Terpopuler

Penanganan Diare pada Anak

Baca Selengkapnya >

Tips Jaga Kesehatan Physical ...

Baca Selengkapnya >

Anak Susah Makan? Simak 7 ...

Baca Selengkapnya >

Tahapan Perkembangan dan Pertumbuhan ...

Baca Selengkapnya >

Permainan Sederhana Bantu Perkembangan ...

Baca Selengkapnya >

Website ini menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapat pengalaman terbaik di dalam website kami. Pelajari lebih lanjut