Facebook Pixel Code Kapan Usia Ideal Anak Masuk Sekolah PAUD?

Kapan Usia Ideal Anak Masuk Sekolah PAUD?

Kapan Usia Ideal Anak Masuk Sekolah PAUD?

 

Sebagai orang tua, Bunda pasti sedang bertanya-tanya kapan sebaiknya mulai mendaftarkan anak masuk sekolah PAUD? Kira-kira usia berapa anak ideal untuk masuk PAUD? Sebagai bocoran, nih, Bun, cepat-cepat memasukkan anak sekolah ternyata tidak selalu pasti lebih baik, lho!

Di sekolah PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini, anak-anak memang tidak belajar mata pelajaran seperti membaca atau berhitung, karena aktivitasnya lebih berfokus ke bermain dan berinteraksi dengan anak-anak seusianya. Akan tetapi, kesiapan anak untuk masuk PAUD juga mesti dipertimbangkan dari berbagai aspek di luar selain kematangan umurnya.

Jadi, kapan anak sebaiknya masuk sekolah? Temukan jawabannya pada penjelasan di bawah ini ya, Bun!  

Berapa Usia Ideal Anak Masuk PAUD?

PAUD merupakan sekolah dengan program untuk anak berusia dini. Lalu, umur berapa, sih, anak dikatakan berusia dini?

Perlu Bunda ketahui bahwa WHO dan CDC mendefinisikan “usia dini” sebagai anak-anak yang berusia dari 3-5 tahun. Sementara itu, Kemendikbud mengkategorikan usia PAUD di Indonesia sebagai anak-anak yang berusia 0-6 tahun.

Jadi, sebetulnya tidak ada patokan rentang usia yang mutlak untuk mendefinisikan anak-anak masuk PAUD umur berapa. Setiap anak memang memiliki kemampuan dan kesiapan yang berbeda-beda untuk masuk sekolah. 

Di Indonesia sendiri, rata-rata sekolah PAUD menerima anak mulai usia 18 bulan atau 2 tahun. Meski begitu, sebagian besar anak cenderung sudah siap masuk PAUD mulai di usia 3 tahun.

PAUD itu sendiri adalah jenjang pendidikan non-formal sebelum anak biasanya masuk sekolah TK A dan TK B. Materi yang diajarkan di sekolah PAUD bukan pelajaran baku seperti membaca atau mengenal angka.

Yang diajarkan di PAUD justru lebih dari segi keterampilan motorik, fisik, sosial-emosional, perilaku, dan mentalnya untuk membantu anak siap mengenyam jenjang pendidikan formal pertamanya nanti, yaitu di taman kanak-kanak (TK) atau sekolah dasar (SD).

Nah, PAUD itu sendiri pun tidak melulu bersifat formal seperti di gedung sekolah pada umumnya, Bun. 

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini, pendidikan PAUD dapat diadakan di Taman Penitipan Anak, Posyandu, Kelompok Bermain, maupun tempat-tempat pendidikan berbasis agama seperti Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ), PAUD Bina Iman Anak (PAUD BIA untuk anak yang beragama Katolik), PAUD Pelayanan Anak Agama Kristen (PAUD PAK), dan Nava Dhammasekha untuk anak yang beragama Buddha.

Bahkan, materi-materi PAUD juga bisa dilakukan sendiri oleh para orang tua di rumah. Sebab pada dasarnya, pendidikan usia dini yang paling utama berasal dari keluarga. Ayah, Bunda, dan anggota keluarga inti lain yang berada di sekeliling si Kecil merupakan sekolah pertama bagi anak. Dari proses pembelajaran bersama keluarga inilah perilaku anak akan terbentuk. 

Pentingnya Tahu Kapan Anak Siap Masuk Sekolah

Bunda tidak perlu terburu-buru untuk mendaftarkan anak masuk PAUD jenis apa pun, kecuali memang situasinya mendesak. Misalkan Bunda dan Ayah sama-sama bekerja dan tidak ada anggota keluarga lain yang bisa menjaga si Kecil.

Pada momen ini, Bunda dapat mendaftarkan si Kecil pada Taman Penitipan Anak dan Satuan PAUD Sejenis (SPS) yang memang memiliki kurikulum dan pola pengasuhan khusus untuk anak usia 0 hingga 6 tahun.

Namun, pastikan PAUD tempat Bunda menitipkan si Kecil memiliki sistem pengasuhan dan pembelajaran yang baik ya, Bun. 

Selepas dari kasus tersebut (atau yang serupa), Bunda sebenarnya bisa memberikan berbagai stimulasi dan asupan nutrisi yang tepat agar si Kecil yang usianya masih terlalu muda dapat tumbuh cerdas dan optimal di rumah. 

Baru ketika si Kecil sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan untuk sekolah, Bunda dapat mendaftarkannya pada layanan PAUD.

Sementara itu, untuk pendidikan sekolah dasar, Permendikbud No 51 Tahun 2018 Pasal 7 menyatakan bahwa usia kesiapan anak yang direkomendasikan adalah 6-7 tahun. 

Walau begitu, anak bisa saja masuk sekolah dasar dengan usia yang lebih muda, yaitu 5 tahun 6 bulan per tanggal 1 Juli, apabila memiliki potensi kecerdasan atau bakat khusus yang disertai dengan kesiapan emosional. Hal tersebut harus dibuktikan dengan rekomendasi tertulis dari psikolog profesional atau dewan guru sekolah. 

Baca Juga: 7 Metode Pembelajaran PAUD yang Harus Bunda Ketahui

Ciri-Ciri Anak Siap Masuk Sekolah PAUD

Bunda, setiap anak memiliki milestones alias pencapaian tumbuh kembang yang berbeda-beda, termasuk dalam kesiapan untuk masuk sekolah, baik PAUD maupun sekolah dasar. 

Apabila anak belum siap namun dipaksakan untuk sekolah, ia dapat mengalami berbagai hambatan dalam proses belajar seperti mengalami frustasi di lingkungan akademik, tidak dapat menyelesaikan tugas dengan baik, dan tidak dapat membentuk konsep diri yang baik. 

Lantas, seperti apa ciri-ciri anak yang siap bersekolah PAUD? Seorang anak yang siap bersekolah dapat dilihat dari perkembangan beberapa aspek yaitu aspek sensoris, motorik, sosial- emosional, kognitif, dan sikap belajar. 

1. Dapat Memanfaatkan Panca Inderanya (Sensoris)

Sebelum mendaftarkan si Kecil sekolah Bunda perlu memperhatikan kemampuan sensoris anak yang meliputi lima panca indra. Sudah mampukah si Kecil memanfaatkan indra melihat, mendengar, meraba, mencium, serta mengecap untuk mengeksplor dan mengenali dunia di sekitarnya?

Jika si Kecil sudah mampu memanfaatkan panca indranya dengan baik, bisa dikatakan ia memiliki salah satu ciri-ciri anak yang memiliki kesiapan belajar.

2. Aktif dan Terampil Bergerak (Motorik)

Selanjutnya, si Kecil dapat dikatakan siap untuk masuk ke dunia sekolah apabila ia sudah mampu menggunakan fungsi motoriknya, baik motorik kasar maupun motorik halus.

Motorik kasar yang mendukung kemampuan si Kecil untuk duduk tegak, berlari, mendorong, menarik dan hal lain yang melibatkan otot besar akan mempermudah si Kecil untuk menjalani berbagai aktivitas di sekolah.

Sementara itu motorik halus adalah kegiatan yang melibatkan koordinasi antara tangan dan mata. Kemampuan ini akan menjadi modal utama bagi si Kecil untuk dapat mengikuti proses pembelajaran seperti menulis, menggambar, menggunting sesuai pola, menempel, dan aktivitas lain yang membutuhkan keterampilan tangan. 

Baca Juga: Cara Ampuh Ajarkan Anak Belajar Menulis Sejak Dini

3. Bisa Berinteraksi dengan Baik (Sosial-Emosional)

Anak usia dini (1-5 tahun) cenderung masih bersifat individualis dan egois. Ini tidak selalu menandakan kepribadian yang buruk, Bun, karena fase egois ini memang menjadi salah satu bagian normal dari perkembangan karakter anak.

Anak di usia ini juga belum bisa mengontrol atau mengekspresikan emosinya dengan cara yang lebih sehat, sehingga ia belum bisa bersimpati dengan orang lain.

Akan tetapi, seiring waktu dan semakin ia sering bermain serta berinteraksi dengan banyak orang, anak akan pelan-pelan memahami pentingnya bersosialisasi dan keberadaan teman-teman di sekitarnya.

Oleh karena itu, sebaiknya Bunda memasukkan anak ke sekolah ketika si Kecil sudah mulai tampak bisa mengendalikan emosinya dengan lebih baik supaya ia juga bisa bermain dan berinteraksi dengan lebih akur. Keterampilan berekspresi ini biasanya dimiliki anak pada usia sekitar 3 tahun.

Seperti apa memangnya ciri anak yang keterampilan sosial-emosionalnya sudah lebih matang? Ketika aspek sosialnya telah berkembang, si Kecil dapat bermain bersama teman-teman sebayanya dengan baik dan mengurangi waktu kebersamaannya bersama orang tua.

Sedangkan, kesiapan secara emosional berarti si Kecil sudah mampu mengatur ekspresi wajah dan merespon tekanan emosi dari orang lain serta mampu mengutarakan emosinya secara verbal. 

4. Mampu Memahami Instruksi (Kognitif)

Sudah mampukah si Kecil memahami instruksi yang diberikan oleh Bunda? Pasalnya, mampu memahami instruksi-instruksi sederhana merupakan salah satu tanda anak siap bergabung bersama teman-temannya untuk belajar di sekolah. 

Nah, untuk mampu memahami berbagai instruksi yang diberikan oleh guru, si Kecil harus sudah memiliki kemampuan untuk mengingat dan memahami instruksi yang diberikan.

Anak yang siap masuk sekolah biasanya juga menunjukkan sikap mau belajar dan bereksplorasi. Sikap belajar ditunjukkan anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan adanya kemauan untuk memecahkan masalah secara mandiri.

5. Bisa Berkomunikasi dengan Baik (Bahasa)

Selain mampu memahami instruksi, perkembangan kognitif anak juga ditunjukkan dari kemampuannya menyampaikan apa yang dirasakan dan dibutuhkan secara verbal alias dengan kata-kata yang jelas. Sehingga, si Kecil dapat berkomunikasi dengan teman maupun gurunya di lingkungan sekolah.

Cara Membantu Anak agar Siap Sekolah

Sebelum mendaftarkan anak ke PAUD atau lembaga pendidikan tingkat lanjut, Bunda dapat membantu mengoptimalkan tumbuh-kembang serta kesiapan belajar si Kecil melalui berbagai macam stimulasi. Berikut kami suguhkan beberapa contohnya:

1. Ajak Anak Ngobrol

Untuk melatih keterampilan anak berkomunikasi, Bunda perlu sering-sering mengajak si Kecil berbicara. Sebagai contoh, minta anak untuk menceritakan apa saja yang ia lakukan saat di rumah nenek, mengungkapkan keinginan untuk hari ulang tahunnya, atau menceritakan kenapa ia suka makan bakso.

Dengan begitu, kemampuan anak untuk berbahasa dan berkomunikasi akan bertambah baik. 

2. Latih Anak Jadi Mandiri

Untuk melatih kemandirian si Kecil, Bunda dapat membiarkan si Kecil untuk melakukan beberapa hal sederhana dengan caranya sendiri. Walaupun proses penyelesaiannya membutuhkan waktu yang lama dan mungkin akan membuat rumah menjadi berantakan, namun hal itu sebanding dengan tumbuh kembang si Kecil. 

Di sini Bunda dapat membiarkan anak makan sendiri, menuang air minum ke dalam cangkir plastik, atau membereskan mainannya sendiri. 

3. Terapkan Rutinitas Harian

Untuk membantu si Kecil mempersiapkan diri masuk sekolah, Bunda dapat membuat rutinitas harian sehingga ia terbiasa dengan jadwal keseharian yang teratur. Mulai dari jadwal bangun tidur, waktu sarapan, makan siang, dan kapan waktu bermain.

Dengan membentuk rutinitas, anak akan merasa lebih nyaman dan tidak “kaget” ketika harus menghadapi kebiasaan baru. Jadi, ketika si Kecil harus masuk sekolah pada jam yang telah ditentukan ia tidak akan ngambek dan susah bangun pagi karena tahu bahwa sekolah merupakan bagian dari rutinitas normalnya. 

Kunci dari membangun rutinitas pada anak adalah Bunda menjelaskan dengan jelas rutinitas yang akan dijalankan anak dan konsisten terhadap jadwal yang sudah dibentuk. 

Jika tiba-tiba rutinitasnya harus berubah, jangan lupa jelaskan alasannya pada anak dengan baik. Berikan juga pengertian akan konsekuensi yang timbul jika rutinitas dipenuhi atau tidak dipenuhi. 

Contohnya, si Kecil punya jadwal sarapan pukul 8 pagi. Jika ia menolak sarapan pada waktu tersebut, konsekuensinya ia akan merasa lapar di sekolah karena baru bisa makan saat jadwal makan siang nanti. 

Ketika si Kecil berhasil menjalani rutinitas hariannya dengan baik, tidak ada salahnya, lho, memberikan hadiah kecil-kecilan seperti stiker yang bisa dikumpulkan dan ditukar dengan hadiah.

4. Bacakan si Kecil Buku

Selain dengan mengajak si Kecil ngobrol, Bunda juga dapat meningkatkan kemampuan berbahasa dan komunikasi anak melalui buku cerita. Ciptakan rutinitas untuk membaca cerita bersama si Kecil, baik di sore hari maupun sebelum tidur agar ia menangkap berbagai ekspresi dan kosakata baru.  

5. Ajak Si Kecil Menari dan Bernyanyi

Bunda dapat mengajak anak menari sambil bernyanyi untuk memperkuat perkembangan motorik kasar dan kemampuan berbicara serta berbahasa si Kecil. 

Sesuaikan jenis lagu dan gerakan yang dilakukan sesuai dengan usia si Kecil ya, Bun. Kemudian ajak si Kecil menyanyikan lagu, bertepuk tangan sesuai ritme, atau menari sesuai kreativitasnya.

6. Sering-Sering Ajak Anak Bermain dengan Temannya

Agar si Kecil memiliki kemampuan sosialisasi yang baik dan mampu menjalin hubungan pertemanan ketika sekolah, Bunda dapat menjadwalkan sebuah playdate dengan anak yang umurnya tidak jauh dengan si Kecil. 

Di sini, anak akan belajar untuk berbagi, menoleransi kehadiran orang lain, mengkomunikasikan apa yang ia mau, dan belajar memecahkan masalah yang muncul selama bermain bersama. 

7. Dukung dengan Nutrisi dari Susu Pertumbuhan

Nah selain dari stimulasi, Bunda juga harus meneruskan pemenuhan nutrisi si Kecil, terutama nutrisi untuk perkembangan otaknya. 

Sebab, perkembangan otak yang optimal merupakan fondasi penting untuk mendukung kemampuan belajar si Kecil. Namun, masih banyak Bunda yang tidak menyadari bahwa 90% perkembangan otak si Kecil tercapai di usia 5 tahun.

Maka itu, penting untuk Bunda terus melanjutkan pemberian nutrisi optimal untuk mendukung perkembangan otak si Kecil yang pesat dan kesiapan belajarnya memasuki usia pra-sekolah (usia 3-5 tahun) ini. 

Yuk, teruskan nutrisinya dengan SGM Eksplor 3+, satu-satunya dengan IronC™ untuk dukung 2x penyerapan nutrisi penting, yang juga dilengkapi DHA, Minyak Ikan Tuna, Omega 3&6 serta nutrisi penting lainnya untuk mendukung perkembangan kognitif si Kecil & siapkan prestasinya. 

Jangan lupa daftarkan diri Bunda di Klub Generasi Maju untuk dapatkan akses ke banyak fitur-fitur menarik lainnyal. Gratis

 

Referensi: 

  1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA. https://repositori.kemdikbud.go.id/17980/1/Permendikbud-146-Tahun-2014.pdf
  2. “Permendikbud No. 51 Tahun 2018 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Dan Sekolah Menengah Kejuruan [JDIH BPK RI].” Bpk.go.id, 2018, peraturan.bpk.go.id/Home/Details/138226/permendikbud-no-51-tahun-2018. 
  3. ‌Suriadi, S.kom. “Post - Post Tidak Ditemukan.” Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu, 2022, disdikpora.rokanhulukab.go.id/view/pendidikan-yang-paling-utama-adalah-pendidikan-keluarg. 
  4. ‌“Penguatan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak.” Ditpsd.kemdikbud.go.id, 2022, ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/penguatan-peran-keluarga-dalam-pendidikan-anak. 
  5. ‌“PAUD Dan Pendidikan Keluarga Penting Dalam Mendukung Perkembangan Anak.” Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi, 6 Nov. 2019, www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/11/paud-dan-pendidikan-keluarga-penting-dalam-mendukung-perkembangan-anak. Accessed 11 Dec. 2022.
  6. Raihana. “Urgensi Sekolah PAUD Untuk Tumbuh Kembang Anak Usia Dini.” Journal.uir.ac.id, Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Riau (UIR), 2018, journal.uir.ac.id/index.php/generasiemas/article/view/2251. 
  7. “Is Your Preschooler Ready for Kindergarten?” HealthyChildren.org, 2022, www.healthychildren.org/English/ages-stages/preschool/Pages/Is-Your-Child-Ready-for-School.aspx. 
  8. ‌Jenderal, Direktorat. DIREKTORAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI. https://paudpedia.kemdikbud.go.id/uploads/pdfs/TINY_20210918_184001.pdf
  9. ‌“Creating Daily Routines for Kids.” PBS KIDS for Parents, 2021, www.pbs.org/parents/routines.
  10. ‌Quick Tips. 2022, www.cdc.gov/parents/essentials/structure/quicktips.html. 

Artikel Terpopuler

Website ini menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapat pengalaman terbaik di dalam website kami. Pelajari lebih lanjut