Konsultasikan gejala dan risiko alergi si Kecil dengan partner konsultan alergi kami

Dr.Zahrah Hikmah, Sp.(A) K

Pakar Alergi Imunologi

Konsultasikan

Konsultasikan gejala dan risiko alergi si Kecil dengan partner konsultan alergi kami

3 Manfaat Konsultasi dengan Pakar alergi :

01

Konsultasi gratis mengenai alergi bersama pakar alergi imunologi.

02

Tidak perlu mengatur janji, hubungi kami untuk mendapatkan solusi dalam mengatasi alergi si Kecil.

03

Segera bawa si Kecil ke dokter untuk diagnosa menyeluruh.

FAQ

Alergi berasal dari kata 'allol' yang berarti berubah. Alergi adalah reaksi daya tahan tubuh yang menyimpang/berbeda dari normal dan dapat menimbulkan gejala yang merugikan.

Tahukah Bunda? Alergi bisa disebabkan kombinasi berbagai faktor, antara lain:

*Faktor genetik atau keturunan
*Imaturitas usus. Usus yang belum matang (immature) belum dapat melindungi diri sepenuhnya dari paparan alergen sehingga alergen yang masuk ke saluran cerna dapat langsung masuk ke dalam tubuh dan mencetuskan alergi.
*Pajanan/paparan alergen. Tentunya paparan alergen pada anak yang berbakat alergi dapat mencetuskan gejala alergi.

Ya. Namun, Bunda sebaiknya ingat bahwa alergi bukan penyakit menular, melainkan diturunkan dari kedua orang tua. Anak yang lahir dari keluarga dengan bakat alergi (atopi) memiliki kemungkinan alergi 20%. Anak yang memiliki orang tua dengan bakat alergi (atopi) memiliki kemungkinan alergi 17-29%, dan meningkat menjadi 60-80% jika kedua orang tua mempunyai bakat alergi (atopi).

Berikut adalah beberapa contoh gejala alergi pada anak:

*Ruam merah, gatal dan bengkak pada kulit  (urtikaria)
*Eksema atau dermatitis
*Bersin-bersin dan batuk (rinitis alergi) 
*Sesak napas atau asma
*Mata merah dan berair (konjungtivitis alergi)
*Gangguan perut (sakit melilit atau diare)

Anak dapat mengalami alergi pada segala hal yang ditemukan di lingkungan, termasuk zat yang masuk ke dalam tubuhnya. Namun, alergen yang paling sering disebutkan adalah susu sapi, makanan laut, telur, debu/tungau, asap, bulu binatang, atau cokelat.

Membawa anak ke dokter adalah salah satu tindakan paling tepat. Dengan demikian, dokter dapat menyarankan  ibu untuk melakuan tes alergi pada anak  agar alergen dapat segera ditemukan dan  ditangani dengan tepat.

Banyak tes yang dapat dilakukan untuk memastikan alergen yang menjadi penyebab alergi pada anak. Misalnya:

*Tes Tusuk Kulit (Skin Prick Test)
*Tes Tempel (Patch Test)
*Tes RAST (Radio Allergo Sorbent Test)
*Tes kulit Intrakutan
*Tes Provokasi dan Eliminasi Makanan
*Tes Provokasi Obat

Kebanyakan tes alergi dilakukan pada anak dengan usia 3 tahun ke atas. Kecuali Tes RAST, Tes Provokasi, dan Eliminasi Makanan, serta Tes Provokasi Obat yang dapat dilakukan pada pada usia berapa pun. Namun, sebaiknya Bunda tetap mengonsultasikannya dengan dokter.

Bunda dapat melakukan pencegahan alergi dalam tiga tahap:

*Pencegahan Primer: Pencegahan yang dilakukan sejak anak belum memperlihatkan gejala alergi. Bunda dapat melakukan diet tertentu saat hamil dan menyusui sehingga anak benar-benar tidak terpapar alergen. Namun, sebaiknya Bunda ingat untuk tetap harus berkonsultasi dengan dokter.
*Pencegahan Sekunder: Pencegahan ini dapat dilakukan setelah sensitisasi (pengenalan) anak terhadap alergen. Pengenalan dapat diketahui dengan menilai adanya IgE spesifik dalam darah. Pencegahan ini optimal dilakukan saat anak masih dalam usia dini.
*Pencegaha Tersier: Pencegahan ini dilakukan setelah anak memperlihatkan gejala alergi. Sebaiknya Bunda lakukan Skin Prick Test atau uji IgE spesifik terlebih dahulu terhadap anak untuk menghindari alergen. Cara pencegahan tersier lain adalah dengan mengobati gejala alergi yang timbul dan kemudian menghindari pencetusnya.

Gejala alergi pada buah hati dapat sembuh atau bahkan menghilang. Misalnya, buah hati yang saat ini alergi susu sapi, bisa saja tidak lagi mengalaminya ketika dewasa. Namun, bakat alergi (atopi) yang bersifat diturunkan tidak akan hilang dari tubuh buah hati sehingga suatu saat dapat muncul gejala alergi lain tergantung paparan yang ada.

Alergi Susu Sapi (ASS) adalah suatu reaksi tubuh yang mengalami penolakan terhadap protein susu sapi. Hal ini biasanya dipicu protein kasein dan whey yang terdapat pada susu sapi.


Kedua protein tersebut sebenarnya memiliki nilai gizi tinggi. Namun, pada sebagian anak kadang memicu timbulnya alergi berat. Bagi buah hati yang hipersensitif, protein tersebut bisa memicu zat antibodi imunoglobulin E (IgE). Zat antibodi ini bisa menyebabkan pelepasan hitamin, zat yang menimbulkan berbagai reaksi alergi dalam tubuh.

Gejala yang dapat terlihat pada buah hati yang alergi susu sapi biasanya mengenai saluran pencernaan. Ini karena kontak yang pertama kali adalah daerah tersebut. Gejala-gejalanya antara lain adalah:

*Bengkak dan gatal di bibir sampai lidah dan orofarings.
*Nyeri dan kejang perut.
*Muntah sampai diare berat dengan tinja berdarah.
Bunda disarankan segera melakukan konsultasi dengan dokter jika buah hati mengalami gejala-gejala tersebut.

Sebaiknya Bunda membatasi konsumsi seluruh produk yang terbuat dari susu sapi dan turunannya, karena protein susu sapi bisa tersalurkan melalui ASI. Jika karena alasan khusus buah hati harus meminum susu formula, dokter mungkin akan mengusulkan susu formula khusus. Namun, tetap ingat bahwa ASI adalah yang terbaik bagi buah hati.

Alergi susu sapi adalah alergi makanan yang dijumpai paling awal dan paling sering pada buah hati. Bila tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat meningkatkan risiko asma dan rinitis alergi (pilek alergi) pada kemudian hari, atau saat usia dewasa. Karena itu, buah hati sebaiknya tetap memenuhi nutrisinya dengan formula pengganti.

Bunda tak perlu khawatir karena ada beberapa alternatif pengganti susu sapi yang sangat bervariasi tergantung kondisi buah hati. Susu pengganti tersebut meliputi formula soya, formula ektensif hidrolisat, formula parsial hidrolisat, formula asam amino, dan susu kambing. Berbagai alternatif tersebut memiliki kandungan nutrisi yang tak kalah dengan susu sapi sehingga Bunda tak perlu khawatir buah hati akan kekurangan asupan nutrisi.

Allergic March adalah perkembangan alami penyakit alergi pada buah hati dengan bakat alergi (atopik). Gejala alergi yang dialami buah hati sepanjang masa tersebut dapat berubah-ubah atau berbeda-beda seiring pertambahan usia.

Syok anafilaksis (anaphylactic shock) adalah reaksi alergi fatal terhadap makanan, obat-obatan (penisilin), lateks alam, atau sengatan serangga. Penyebab syok ini adalah saat alergen masuk ke dalam aliran darah, sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan dengan melepaskan histamin serta zat kimia lain dalam jumlah besar sehinga memicu gejala alergi yang intens.

Saat terjadi syok anafilaksis, tekanan darah akan menurun drastis, terjadi gatal-gatal, penyempitan saluran udara dan tenggorokan bengkak sehingga buah hati kesulitan bernapas. Syok terjadi dengan cepat, biasanya hanya dalam beberapa menit atau jam setelah kontak dengan alergen.

Syok anafilaksis masuk ke dalam kategori kegawatdaruratan dan buah hati harus segera dibawa ke rumah sakit atau klinik untuk mendapat penanganan dokter.

Tidak ada benda apa pun yang dapat mencegah reaksi alergi jika memang tubuh buah hati sudah rentan. Bunda hanya bisa mencegah reaksi alergi dengan menjaga kebersihan peralatan yang dipakai buah hati, termasuk perlengkapan tidurnya. Cuci seprei dengan air panas dan bersihkan dinding dan lantai kamar secara teratur untuk mengurangi lapisan debu.

Olahraga adalah aktivitas yang menyehatkan. Sebaiknya Bunda mencari tahu terlebih dahulu penyebab asma pada buah hati sebelum memutuskan apakah ia boleh berolahraga atau tidak. Konsultasikan dengan dokter jika aktivitas fisik yang berlebih dapat memicu timbulnya asma. Bunda juga sebaiknya ingatkan buah hati untuk melakukan pemanasan dan pendinginan dengan baik dan benar.

Desensitisasi alergi adalah suatu bentuk terapi. Alergen-alergen diinjeksikan pada buah hati dengan tujuan mengurangi atau menghilangkan respons alergi. Hal ini juga disebut imunoterapi alergen, hiposensitisasi, atau terapi injeksi alergi. Jumlah alergen yang diberikan ditingkatkan perlahan selama beberapa minggu atau bulan sampai dosis maksimum yang diketahui atau sampai dosis toleransi maksimum tercapai.

Setelah dosis maintenance ini tercapai, interval antarsuntikan ditingkatkan secara bertahap dari minggu ke bulan, dan dilanjutkan beberapa bulan atau tahun. Desensitisasi lebih banyak digunakan pada penyakit-penyakit yang diperantarai IgE-antibodi. Namun, ini juga telah digunakan pada alergi bentuk lain. Bunda disarankan berkonsultasi ke dokter untuk keterangan maupun tindakan lebih lanjut.