Facebook Pixel Code Tinggi Badan yang Ideal untuk Anak Usia 1-5 Tahun

Ketahui Tinggi Badan Anak yang Ideal untuk Usia 1-5 Tahun

Ketahui Tinggi Badan Anak yang Ideal untuk Usia 1-5 Tahun

Ketahui Tinggi Badan Anak yang Ideal untuk Usia 1-5 Tahun

Tinggi badan anak adalah salah satu acuan untuk menilai apakah pertumbuhannya sudah sesuai umur.

Jadi, sangat wajar jika Bunda bertanya-tanya apakah tinggi badan si Kecil sudah ideal atau belum. Sebab, perawakan tubuh anak yang pendek mungkin menandakan masalah pertumbuhan. 

Lantas, sebenarnya berapa, ya, tinggi badan rata-rata anak Indonesia berdasarkan usianya? Bagaimana pula cara memaksimalkan pertumbuhan anak agar ia dapat tumbuh optimal? Yuk, simak jawaban selengkapnya dalam artikel berikut ini, Bun. 

Berapa Tinggi Badan Anak yang Ideal Sesuai Usia?

Penting untuk dipahami lebih dulu, bahwa jika Bunda bertanya-tanya, “Berapa sih tinggi badan anak 1 tahun yang ideal?”, “Tinggi badan anak 2 tahun bisa sampai 100 sentimeter, apakah wajar?”, atau “Tinggi badan anak saya yang 3 tahun dengan temannya kok berbeda?”, jawabannya akan sangat beragam.

Namun, Kementerian Kesehatan Indonesia telah mengeluarkan acuan berupa tabel tinggi badan anak menurut usia 1-5 tahun dan jenis kelamin lewat Permenkes tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak di bawah ini. 

Usia

Anak Laki-Laki

Anak Perempuan

1-2 tahun

75,7 - 87,8 cm

74 - 86,4 cm

2-3 tahun

87,1 - 96,1 cm

85,7 - 95,1 cm

3-4 tahun

96,1 - 103,3 cm

95,1 - 102,7 cm

4-5 tahun

103,3 - 110 cm

102,7 - 109,4 cm

Setelah melihat tabel tinggi badan anak ini, Bunda juga perlu memahami bahwa pertumbuhan tinggi badan setiap anak bisa berbeda-beda karena tergantung pada usia, berat badan, hingga faktor genetik. 

Kenapa Penting Memantau Pertumbuhan Tinggi Badan?

Pertumbuhan tinggi badan anak perlu dipantau secara berkala setiap bulan untuk memastikan anak sudah bertumbuh dengan baik sesuai usianya.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pertumbuhan tinggi badan berperan penting dalam menentukan status gizi anak ketika dibandingkan dengan berat badan anak, apakah ia termasuk obesitas, gizi berlebih, gizi baik, kurang gizi, atau gizi buruk. 

Sebagai contoh, apabila anak Bunda memiliki pertumbuhan tinggi badan yang lebih lambat dari berat badannya, maka Si Kecil berisiko memiliki kelebihan berat badan atau obesitas. 

Selain itu, memantau pertumbuhan tinggi badan anak juga penting untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan yang dapat berakibat jangka panjang pada kualitas hidup si Kecil. Misalnya, stunting. 

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang terjadi waktu yang cukup lama sehingga mengakibatkan perawakan tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya, atau bahkan atau sangat pendek (kerdil).

Bagaimana Cara Mengetahui Tinggi Badan Anak Sudah Ideal?

Setiap anak adalah individu yang unik dan bisa bertumbuh kembang dengan kecepatannya masing-masing. 

Nah, untuk memastikan apakah tinggi badan si Kecil memang sudah ideal atau belum, Bunda bisa memantau pertumbuhan Si Kecil yang berusia 0-2 tahun tiap bulannya melalui Grafik Pertumbuhan Anak yang terdapat di Kartu Ibu dan Anak (KIA) maupun Kartu Menuju Sehat (KMS). 

Grafik ini dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan sudah dijadikan acuan umum digunakan oleh dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia untuk memantau pertumbuhan anak. 

Bunda juga bisa membawa Si Kecil ke posyandu atau dokter anak secara berkala untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat terkait kemungkinan macam-macam faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tinggi badannya. 

Setiap bulannya, dokter atau petugas posyandu nanti akan mengukur tinggi badan anak yang akan dibandingkan dengan berat badannya. Dari hasil tersebut, dokter akan bisa mengetahui apakah tinggi badan anak Bunda sudah ideal sesuai usianya atau belum. 

Sebab, bisa saja anak memiliki pertumbuhan normal sampai usia tertentu, tapi kemudian mengalami gangguan atau penyakit seperti infeksi yang mempengaruhi laju pertumbuhannya.

Faktor yang Memengaruhi Tinggi Badan Si Kecil

Tinggi badan anak 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun dan seterusnya tentu berbeda-beda, Bunda. Hal ini bergantung pada beberapa hal yang mempengaruhinya, seperti:

1. Nutrisi

Salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi badan anak berasal dari nutrisi yang dikonsumsinya. 

Misalnya, anak-anak yang memiliki tinggi badan lebih pendek dibandingkan anak seusianya akibat asupan nutrisi yang dikonsumsinya, dan begitu pula sebaliknya. 

Meski demikian, bisa pula anak-anak obesitas memiliki tinggi badan pendek karena pemberian makanan dengan nutrisi yang tidak seimbang walaupun porsinya besar. 

2. Faktor Genetik dan Keluarga

Faktor genetik dan keluarga ternyata berperan penting terhadap pertumbuhan tinggi badan anak. 

Ketika tinggi badan Si Kecil lebih pendek atau tinggi daripada teman sebayanya, dokter mungkin akan menanyakan rekam jejak di keluarga orang tuanya. 

Dokter juga mungkin akan bertanya apakah Bunda pernah mengalami masalah tumbuh kembang atau tidak.

Sementara itu, dari faktor genetik, anak-anak berkebutuhan khusus, seperti Down syndrome, Noonan syndrome, atau Turner syndrome cenderung memiliki postur tubuh yang lebih pendek. Sedangkan, Marfan syndrome menyebabkan anak menjadi lebih tinggi.

Baca Juga: Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak

3. Hormon

Ketidakseimbangan hormon, seperti kadar tiroid atau hormon pertumbuhan yang rendah, ternyata juga bisa menyebabkan pertumbuhan tinggi badan anak bergerak lebih lambat daripada anak seusianya. Akibatnya, ada balita yang tubuhnya lebih pendek atau sangat tinggi.

Oleh karena itu, Bunda bisa segera memeriksakan Si Kecil bila tinggi badan anak terlalu pendek atau tinggi karena bisa jadi ia mengalami masalah hormon pertumbuhan. 

4. Kondisi Medis Tertentu

Bunda, tahukah bahwa anak-anak yang mengidap penyakit kronis, seperti penyakit Celiac dan kanker, lebih rentan memiliki perawakan badan yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya?

Ini karena kondisi medis atau infeksi yang diidap anak bisa mempengaruhi kerja tubuh untuk menyerap nutrisi dari makanan dan melemahkan sistem imunnya.

Selain keempat hal di atas, pertumbuhan tinggi badan juga dapat dipengaruhi oleh durasi tidur, pola makan, kebiasaan olahraga, dan kondisi psikologis Si Kecil, lho, Bund! 

Cara Menambah Tinggi Badan Anak

Apabila tinggi badan anak kurang karena dipengaruhi penyakit, tidak ada perawatan medis khusus yang bisa diperlukan. Penyakit yang mendasarinya haruslah ditangani secara tepat lebih dulu, Bu, baru kemudian dampak yang diakibatkannya bisa dipulihkan secara bertahap.

Namun secara umum, ada beberapa cara sederhana yang bisa Bunda lakukan untuk menambah tinggi badan anak. Misalnya: 

1. Berikan Makanan Sehat dan Bergizi Seimbang

Bunda perlu memenuhi seluruh nutrisi yang dibutuhkan Si Kecil. Misalnya, anak perlu dibiasakan mengonsumsi buah-buahan segar, sayuran, protein, serta produk olahan susu. 

Bila perlu, Si Kecil juga bisa diberikan suplemen kesehatan tambahan tertentu. Namun, pastikan Bunda berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan pemberian suplemen kesehatan tambahan. 

2. Pastikan Anak Tidur Cukup

Tidur yang cukup ternyata berperan penting dalam menambah tinggi badan anak, lho, Bun. Menurut studi dari Journal of Medicinal Food, hormon pertumbuhan anak akan bekerja maksimal ketika ia sedang tidur.

Anak usia 1-2 tahun membutuhkan waktu tidur sebanyak 11-14 jam, sedangkan balita usia 3-5 tahun memerlukan waktu tidur selama 10-13 jam. 

Bunda juga bisa membiasakan Si Kecil untuk tidur siang, agar perkembangan dan pertumbuhan tinggi badannya berjalan optimal. 

3. Ajak Anak Bergerak Aktif

Tak ada salahnya Bunda mengajak Si Kecil bergerak aktif dengan melakukan olahraga atau aktivitas fisik. Sederhana saja, Bunda bisa mengajak anak bersepeda, jalan kaki, jogging, berlari, atau bermain bola.

Jika aktivitas fisik dilakukan secara rutin, dapat memperkuat otot dan tulang anak, mempertahankan berat badan, serta meningkatkan produksi hormon pertumbuhan. 

4. Berikan Susu Pertumbuhan

Selain nutrisi dari makanan, Bunda juga bisa membantu menambah tinggi badan Si Kecil dengan memberikannya susu pertumbuhan yang difortifikasi dengan kalsium, vitamin D, magnesium, dan fosfor.

Salah satu susu yang baik untuk pertumbuhan tulang anak adalah SGM Eksplor 3 Plus Pro-gress Maxx. Selain sudah diperkaya dengan sejumlah nutrisi penting di atas, SGM Eksplor 3 Plus juga dilengkapi dengan minyak ikan, omega 3&6, DHA, serta IronC (kombinasi unik zat besi dan vitamin C) dan protein yang memainkan peran kunci dalam tumbuh kembang anak

Baca Juga: Cara Mengatasi Anak Kurang Gizi yang Wajib Para Ibu Ketahui

Jadi meski pertumbuhan tinggi badan anak dipengaruhi hal-hal tertentu, Bunda tetap bisa mengoptimalkannya lewat pemenuhan nutrisi terbaik setiap hari agar si Kecil bisa tumbuh dan berkembang sesuai potensi prestasinya.

Jangan lupa bergabung menjadi member Klub Generasi Maju ya, Bun! Daftar sekarang untuk mendapatkan lebih banyak informasi serta tips parenting lainnya.

Referensi:

  1. Very Well Family. https://www.verywellfamily.com/normal-growth-of-young-children-2632414#toc-why-tracking-is-important. Diakses pada 1 September 2022. 
     
  2. Healthy Children. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/Glands-Growth-Disorders/Pages/Predicting-a-Childs-Adult-Height.aspx. Diakses pada 1 September 2022. 
     
  3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-memantau-pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-bagian-1. Diakses pada 1 September 2022. 
     
  4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. http://p2ptm.kemkes.go.id/post/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi. Diakses pada 1 September 2022. 
     
  5. Journal of Medicinal Food. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9208721/. Diakses pada 1 September 2022.
     
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://p2ptm.kemkes.go.id/post/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi. Diakses pada 1 September 2022. 

  7. Healthline. https://www.healthline.com/health/how-to-increase-height#how-to-increase-height. Diakses pada 1 September 2022.
     
  8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__2_Th_2020_ttg_Standar_Antropometri_Anak.pdf. Diakses pada 1 September 2022.
     

Artikel Lainnya di Tahapan Anak 1 - 3 tahun

Resep Menu Makanan untuk Anak 1 ...

Anak susah makan tentu menjadi tantangan terbesar bagi Bunda. Untuk mengatasinya, coba resep menu...

Daftar Kebutuhan Gizi Balita Usia 1...

Memenuhi kebutuhan gizi balita sangat penting untuk tumbuh kembangnya, Bun. Yuk, ketahui panduan...

7 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan ...

Ada banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Selain nutrisi dari makanan,...

Anak Tantrum? Ini Penyebab dan ...

Anak tantrum biasanya karena ingin meluapkan emosi atau amarah tapi tidak bisa mengungkapkannya...

5 Perkembangan Motorik Anak 1-3 Tahun ...

Si Kecil akan menunjukkan berbagai macam perkembangan motorik yang perlu Bunda perhatikan dan...

Cari Tahu 5 Manfaat Minum Susu ...

Mengonsumsi susu sangat penting bagi pertumbuhan dan kesehatan si Kecil, termasuk mereka yang...


Artikel Terpopuler

Penanganan Diare pada Anak

Baca Selengkapnya >

Tips Jaga Kesehatan Physical ...

Baca Selengkapnya >

Anak Susah Makan? Simak 7 ...

Baca Selengkapnya >

Permainan Sederhana Bantu Perkembangan ...

Baca Selengkapnya >

3 Jenis Gejala Alergi Pada ...

Baca Selengkapnya >

Website ini menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapat pengalaman terbaik di dalam website kami. Pelajari lebih lanjut