Facebook Pixel Code Dukung Perkembangan Otak si Kecil dengan Makanan Kaya Zat Besi

Dukung Perkembangan Otak si Kecil dengan Makanan Kaya Zat Besi

Dukung Perkembangan Otak si Kecil dengan Makanan Kaya Zat Besi

Dukung Perkembangan Otak si Kecil dengan Makanan Kaya Zat Besi

Bunda, si Kecil membutuhkan berbagai asupan nutrisi yang tepat dan seimbang agar tumbuh kembangnya optimal. Sayangnya, 1 dari 3 anak Indonesia berusia di bawah 5 tahun berpotensi kekurangan zat besi karena kurangnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi dan adanya gangguan pada proses penyerapan nutrisi. Padahal, kekurangan zat besi pada anak berpotensi menghambat kemampuan kognitif dan fungsi mental si Kecil.

Sebenarnya, tidak sulit untuk memastikan asupan nutrisi si Kecil terutama terhadap zat besi dapat tercukupi. Kandungan zat besi bisa ditemui dalam sejumlah makanan yang di sekitar kita. Bunda, yuk cari tahu lebih jauh mengenai peran penting zat besi untuk anak  dan jenis makanan yang sarat zat besi.

Zat Besi, Elemen Penting dalam Menu Makan si Kecil

Zat besi merupakan elemen penting dari pola makan sehat, terutama bagi si Kecil yang masih dalam tahap pertumbuhan. Pemenuhan asupan zat besi dapat mendukung perkembangan kognitif si Kecil yang meliputi kemampuan berpikir, belajar, dan memahami hal di sekitarnya. Konsumsi zat besi juga mendukung pertumbuhan fisik yang optimal, membuat si Kecil lebih aktif dan membuat kemampuan mengingatnya jadi semakin baik.

Lantas, berapa seberapa banyak zat besi untuk anak yang harus dikonsumsi  setiap hari? Asupan zat besi harian yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan untuk si Kecil usia 1-3 tahun adalah sekitar 7 mg per hari. 

Jenis Makanan untuk Memenuhi Kebutuhan Zat Besi si Kecil

Untuk membantu mencukupi kebutuhan zat besi si Kecil, berikan mereka makanan kaya zat besi setiap hari. Zat besi terkandung dalam berbagai produk nabati dan hewani. Sebagai pilihan nutrisi harian, makanan berikut ini kaya akan zat besi yang baik untuk si Kecil:

Daging sapi dan kambing

Ikan

Hati ayam dan sapi

Telur

Kacang-kacangan 

Sayuran berdaun hijau tua seperti bayam dan brokoli

Roti gandum utuh

Sereal

Buah kering seperti kismis

Susu pertumbuhan yang telah difortifikasi

Produk hewani seperti daging dan ikan mengandung zat besi berjenis heme yang lebih mudah diserap oleh tubuh. Adapun zat besi non-heme yang terkandung dalam sayur-sayuran tidak dapat diserap tubuh semudah zat besi heme di daging. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), zat besi dari sumber hewani bisa diserap hingga 23% sementara zat besi dari sayuran hijau hanya dapat diserap sebanyak 3-8%. Maka, satu hal yang tak kalah penting adalah Bunda perlu memperhatikan makanan atau zat gizi lain yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. 

Tips agar Zat Besi Diserap dengan Optimal

Untuk bisa berfungsi dengan optimal bagi tubuh si Kecil, zat besi memerlukan dukungan dari vitamin C. Kombinasi yang tepat antara vitamin C dan zat besi dengan rasio yang sesuai dapat membantu penyerapan zat besi yang lebih optimal dalam tubuh si Kecil. Salah satu cara untuk mendukung penyerapan zat besi yang optimal adalah memberikan makanan dengan kandungan vitamin C yang tinggi dalam menu si Kecil yang kaya zat besi. Misalnya, Bunda bisa memberikan si Kecil jus atau buah jeruk, kiwi, lemon, stroberi, dan pepaya. 

Bunda, pastikan makanan tinggi zat besi dan vitamin C ada dalam menu harian si Kecil ya. Asupan zat besi untuk anak yang adekuat dapat mendukung tingkat konsentrasi dan fokus si Kecil. Keduanya merupakan faktor yang berperan penting dalam kemampuan belajar, bersosialisasi, maupun pertumbuhan fisik si Kecil. 

Susu Pertumbuhan untuk Bantu Lengkapi Kebutuhan Zat Besi Harian

Tidak hanya makanan padat, susu juga berperan dalam membantu memenuhi asupan zat besi, termasuk susu pertumbuhan yang telah diperkaya dengan zat besi. Sebuah studi terhadap anak usia 1-3 tahun di Eropa mengungkap bahwa anak yang mengonsumsi susu pertumbuhan yang telah difortifikasi, berisiko lebih rendah mengalami kekurangan zat besi dibanding anak yang mengonsumsi susu sapi biasa. 

Oleh karena itu, untuk melengkapi menu harian si Kecil, selain memberikan makanan yang kaya dengan zat besi, Bunda juga bisa memberikan segelas susu tinggi zat besi pertumbuhan setiap pagi dan malam. Susu pertumbuhan biasanya sudah difortifikasi dengan zat besi, vitamin C, minyak ikan, omega 3 & 6, kalsium, dan serat pangan untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil menjadi generasi yang unggul.

Sumber:

Original Article: “Iron and Your Toddler”. Including: https://www.cgbabyclub.co.uk/toddler/health/the-importance-of-iron-2-3-years.html Accessed 29 Oct 2020  

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17691592 Accessed 29 Oct 2020

https://www.nutriciaresearch.com/news/the-positive-role-of-micronutrient-fortified-young-child-formula-on-iron-and-vitamin-d-status-in-healthy-young-european-children/ Accessed 29 Oct 2020

https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pastikan-bayi-anda-cukup-zat-besi Accessed 29 Oct 2020

Artikel Lainnya di Tahapan Anak 1 - 3 tahun

Tahukah Bunda, Kekurangan Zat Besi ...

Tak hanya menghambat kemampuan belajar, simak beberapa dampak kekurangan Zat Besi yang dapat...

Catat! Ini Pentingnya Zat Besi ...

Kekurangan Zat Besi masih menjadi masalah bagi sebagian anak Indonesia. Kondisi ini bahkan memiliki...

Ini Dia Alternatif Nutrisi Pengganti ...

Salah satu nutrisi esensial yang dibutuhkan pada masa pertumbuhan si Kecil adalah Zat Besi, yang...

Tanggap Ciri Alergi Susu Sapi ...

Bunda perlu tanggap jika anak mengalami alergi, salah satunya dengan tahu ciri alergi susu sapi dan...

Apakah Susu Pertumbuhan Terfortifikasi Bermanfaat ...

Kebutuhan nutrisi si Kecil selalu menjadi prioritas utama pada setiap orang tua. Orang tua tentu...

8 Nutrisi Ini Bisa untuk Bantu ...

Si Kecil yang memasuki usia 1-3 tahun akan mengalami masa pertumbuhan yang signifikan karena pada...


Artikel Terpopuler

Penanganan Diare pada Anak

Baca Selengkapnya >

Tips Jaga Kesehatan Physical ...

Baca Selengkapnya >

Anak Susah Makan? Simak 7 ...

Baca Selengkapnya >

Permainan Sederhana Bantu Perkembangan ...

Baca Selengkapnya >

3 Jenis Gejala Alergi Pada ...

Baca Selengkapnya >

Website ini menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapat pengalaman terbaik di dalam website kami. Pelajari lebih lanjut

Butuh Bantuan