Nutrisi Terbaik Agar Tumbuh Kembang Anak Terbebas dari Alergi Susu Sapi

Anisa Rahmadani | 09 Oct 2020
Bagikan:

Bunda, alergi susu sapi adalah salah satu jenis alergi makanan yang mungkin terjadi pada si Kecil. Alergi ini bisa mengenai berbagai bagian tubuh si Kecil mulai dari kulit, saluran cerna, hingga saluran napas. Gejala alergi susu sapi yang mungkin timbul setelah mengonsumsi susu sapi dan produk olahannya pun beragam. Misalnya pilek, batuk, dan bersin berulang, sesak napas, muntah, diare disertai darah, muncul ruam merah di kulit, dan masih banyak lagi. Jika tidak ditangani dengan baik, gejala alergi pada susu sapi pada tubuh si Kecil bisa menghambat tumbuh kembangnya lho, Bun. 

Pada dasarnya, cara terbaik untuk menangani alergi susu sapi adalah dengan menghindarkan alergen atau zat pencetus berupa susu sapi dan seluruh produk turunannya seperti mentega, yoghurt, dan keju. Tak hanya itu, si Kecil yang alergi pada susu sapi juga membutuhkan asupan nutrisi lengkap dan seimbang layaknya anak-anak seusianya yang tidak memiliki alergi. Oleh karena itu, pastikan si Kecil makan makanan utama 3 kali sehari dengan 2-3 kali makan selingan di antaranya. 

Bunda, ada beberapa nutrisi penting yang dapat mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan kesehatan saluran cerna anak yang berusia di atas 1 tahun, termasuk si Kecil yang alergi susu sapi. Nutrisi-nutrisi ini sebaiknya ada di dalam menu makan si Kecil setiap hari. Kita simak bersama ya, Bun. 

Minyak Ikan, Omega 3 & 6

Bunda, Omega 3 yang ada di dalam minyak ikan baik untuk mendukung fungsi otak si Kecil. Sebuah studi bahkan mengungkap bahwa anak-anak yang mengonsumsi makanan dengan kandungan Omega 3 menunjukkan peningkatan pada fungsi kognitif mereka. Seperti Omega 3, asam lemak Omega 6 juga menyimpan manfaat untuk kesehatan tubuh dan jantung. 

Untuk itu, cukupi kebutuhan minyak ikan dan Omega 3 si Kecil melalui ikan-ikan laut seperti salmon, sarden, makerel, dan lain sebagainya. Makanan lain seperti kacang walnut dan biji chia juga bisa Bunda jadikan sebagai sumber Omega 3. Omega 6 bisa Bunda peroleh melalui minyak jagung, minyak dan biji bunga matahari, kacang almond, dan minyak kedelai. 

Vitamin dan Mineral

Kementerian Kesehatan menganjurkan agar si Kecil yang berusia 2-5 tahun banyak mengonsumsi buah dan sayur karena mengandung vitamin dan mineral yang berfungsi untuk membantu melancarkan kerja tubuh si Kecil. Misalnya, si Kecil membutuhkan kalsium dan vitamin D agar mencapai kepadatan tulang yang optimal. 

Selain melalui buah dan sayur, kalsium juga bisa diperoleh melalui ikan-ikanan laut, kedelai, dan kacang-kacangan, sementara vitamin D bisa Bunda dapatkan dari jamur, hati, atau kuning telur. Berjemur sinar matahari juga bisa membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh, Bun. 

Si Kecil juga membutuhkan asupan Vitamin C dan Zinc (seng) yang cukup agar terlindung dari paparan penyakit dan infeksi. Manfaat vitamin C untuk anak Vitamin , yakniC berfungsi merangsang pembentukan antibodi tubuh sementara Zinc membantu daya tahan tubuh si Kecil berfungsi optimal dan menyembuhkan luka. Manfaat vitamin C untuk anak Vitamin C bisa diperoleh melalui jambu biji, pepaya, jeruk, dan stroberi sementara Zinc terdapat di dalam ayam, makanan laut, biji-bijian dan kacang-kacangan. 

Serat Pangan

Bunda, Kementerian Kesehatan juga menganjurkan agar si kecil banyak mengonsumsi makanan berserat seperti buah dan sayur. Serat berfungsi untuk memperlancar pencernaan, mencegah sembelit, hingga memelihara kulit, rambut, dan kuku. 

Salah satu jenis serat pangan yang ada di dalam buah dan sayur adalah serat pangan inulin yang membantu perkembangan bakteri baik dalam usus. Selain pada buah dan sayur, serat pangan inulin juga dapat ditemukan pada bawang putih, bawang bombai, gandum, atau produk yang sudah difortifikasi dengan inulin. 

Alternatif Susu

Susu sesungguhnya menyimpan banyak manfaat untuk anak sebagai sumber kalsium, protein, dan energi untuk tubuh. Namun, Bunda tak perlu khawatir jika si Kecil alergi susu sapi. Untuk memenuhi  kebutuhan nutrisi si Kecil yang alergi susu sapi Bunda harus konsultasikan terlebih dahulu ke tenaga kesehatan.  


Salah satu yang dijadikan alternatif dan direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Indonesia, adalah formula pertumbuhan  kedelai (soya). Susu formula soya Formula pertumbuhan soya tidak mengandung protein susu sapi sama sekali, melainkan mengandung isolat protein soya yang menurut penelitian dinilai aman untuk dijadikan sebagai pengganti pada anak dengan alergi susu sapi.  Sekitar 85-90% anak yang menderita alergi susu sapi toleran atau cocok terhadap fomula ini. Kelebihan lain susu formula soya formula pertumbuhan soya adalah rasanya yang lebih enak dan harganya yang lebih terjangkau. Namun perlu diingat juga masih ada kemungkinan adanya reaksi silang alergi terhadap protein kedelai.

 

Nah, Bunda, si Kecil yang berusia 1 tahun dan punya alergi susu sapi harus tetap mendapat asupan nutrisi yang lengkap dan seimbang. Pastikan menu makannya mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Untuk melengkapi menu hariannya, Bunda juga bisa memberikan SGM Eksplor Advance+ Soya dengan formula COMPLINUTRI Soya+ yang mengandung Isolat Protein Soya, Minyak Ikan, Omega 3 & 6, 13 vitamin & 7 mineral, serta serat pangan. Yuk, Bunda, dukung nutrisi si Kecil yang tidak cocok minum susu sapi agar tumbuh kembangnya tetap optimal sesuai tahapan usia. 

 

Sumber:

Mengenali Alergi Susu Sapi pada Anak. Jakarta: IDAI; 2013. Retrieved from

https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/mengenali-alergi-susu-sapi-pada-anak Accessed Sep 22, 2020 

Waspada Alergi Susu Sapi pada Bayi. Jakarta: IDAI; 2013. Retrieved from

https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/waspadai-alergi-susu-sapi-pada-bayi Accessed Sep 22, 2020 

Peraturan Menteri Kesehatan RI No 41/2014 (Pedoman Gizi Seimbang). Retrieved from: http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK%20No.%2041%20ttg%20Pedoman%20Gizi%20Seimbang.pdf Accessed Aug 27, 2020

Sayin U, Zengin T, Alioglu B, et al. Evaluation of the Effect of Fish Oil Use on

Receptive Language and Cognitive Processes in Healthy Turkish Children Aged between 2 and 12 Years Old. Food and Public Health.

2015;5(2):56-60. Retrieved from: http://article.sapub.org/10.5923.j.fph.20150502.04.html Accessed Aug 27, 2020

Image Footer Alergi Anak